Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Alex - Mindset Jatuh Cinta (Final Part)

 

Alex - Mindset Jatuh Cinta (Final Part)

"Kaa..muu.. Bisa ke sini sekarang?", Tanya Helena pada Alex melalui ponselnya, suaranya tersenduh-senduh lantaran ia berbicara sambil menangis. Dari balik ponselnya pula, Alex terkejut ketika menerima telfon dan kedapatan Helena sedang terisak. Seketika Alex terlihat panik dan bingung, ia tak tahu sesuatu apakah yang membuat Helena menangis. "Kamu kenapa? Ada masalah apa?", tanya Alex dengan segala kepanikan yang menyertainya. Alih-alih menjawab pertanyaan Alex, Helena makin tersenduh, dan mengeraskan suara tangisnya. "A..ku... butuh..kamu sekarang". Jawab Helena terpatah-patah.  


Saat itu hari Sabtu pukul 20.10. Alex semakin panik karena belum juga mendengar penjelasan dari Helena kecuali suara tangisan itu. Sesekali ia mengucapkan kalimat-kalimat menenangkan, "Iya. Aku pasti akan ke sana, tapi besok ya. Kamu tenang dulu sekarang." Bisik Alex yang berusaha menenangkan Helena. Dan tak lama kemudian, percakapan itu diakhiri dengan ucapan selamat tidur setelah Helena dapat menghentikan tangisannya. Alex pun pergi tidur dengan beralaskan buah kepanikan yang dihasilkan dari apa yang baru saja ia dapati. 


Tanpa banyak berfikir, Alex mengambil motor dan menemui Helena keesokan harinya. Lalu, dari kejauhan terdengar teriakan dari arah belakangnya, suara itu seperti suara wanita parubaya. "A..Lex!" Mau kamu apakan motor ibu?". Ternyata Alex sedang menaiki motor milik ibu kosnya, ia salah mengambil motor lantaran terburu-buru. 


Akhirnya pada pukul 07.50, ia bertemu dengan Helena. Saat itu, ia mendengar satu kalimat aneh yang ia dengar pertama kali dari mulut Helena, "Dia menyentuhku". Helena mengatakannya dengan tatapan kosong dan wajahnya, terlihat sangat kusut. Sebuah tatapan yang tak pernah ia lihat dari Helena sebelumnya. Alex tak mengerti, apa maksud kalimat itu. Lalu ia duduk, memberikan ruang bersandar di bahunya, dan berusaha mencari tahu apa maksud kalimat itu. "Dia mereng..gut kesucianku!". Tegas Helena sambil menyandarkan kepalanya, lalu menangis dan terpatah-patah. "Omong kosong macam apa ini!". Teriak Alex dalam hatinya. Helena akhirnya menjelaskan bahwa ia telah melakukan sebuah hubungan seksual dengan seorang pria yang masih berada di dalam circlenya. 


Mendengar kenyataan itu, seketika Alex berteriak dari dalam hatinya, "Ini benar-benar menjijikkan! Bahkan sangat menjijikkan". Ia berada di ambang perpaduan antara, sakit hati, kesal, dan belas kasih atas peristiwa yang dialami Helena. "Mengapa aku tampak bodoh, bahkan aku berusaha membohongi diriku dengan perasaan seolah aku bertanggung jawab untuk menenangkannya". Alex terus menerus menggumam di hatinya. Di sisi lain, Helena memeluk erat Alex yang menurut Helena ia sedang berusaha mendengarkan, padahal sebenarnya, Alex berada di ambang kekalutan perasaannya. 


Pertemuan itu adalah pertemuan paling kacau di antara mereka. Di mana Helena merasa sangat frustasi, dan Alex, entahlah, mungkin ia menutupi perasaannya dengan berlagak seolah ia baik-baik saja. Walaupun ia tak mengelak bahwa ada begitu banyak pertanyaan yang melayang-layang di dalam kepalanya, namun sampai ia pulang, ia lebih memilih untuk tak mengajukannya. Dan menyajikan peringai sok kepahlawanannya di hadapan Helena. 


"Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan, dan aku merasa, aku telah menjadi manusia yang paling tak bernilai di dunia ini". Ucap Helena sebelum mereka mengakhiri pertemuan itu. Sementara Alex tampak diam, dan dia hanya menitik beratkan fokusnya pada upaya menenangkan Helena saat itu. Dan semenjak pertemuan itu, mindset Alex menjadi seperti mindset yang Helena miliki sebelumnya. Ia tak pernah mengkomunikasikan apa-apa yang ada di dalam perasaannya, alih-alih, ia justru banyak berdiam. Dan tak jarang Alex merasa sangat marah jika Helena menghubunginya pada saat yang kurang tepat. 


Pertemuan itu seolah, telah merubah karakter Alex. Ia menjadi sangat dingin, dan sesekali bersikap skeptis pada Helena. Ngomong-ngomong, bahkan sampai satu bulan setelah pertemuan menyedihkan itu, Alex masih tidak mengungkapkan bentuk perasaannya. Alex merasa bahwa perasaan kalut yang ia rasakan terasa seperti mendeterminasi semua isi hatinya. Dan yang mengejutkan, Alex telah kehilangan perasaan cintanya dan lebih memilih untuk tidak menyampaikannya pada Helena. 


Aroma-aroma perpisahan pun semakin tercium dan melekat di antara mereka. Apalagi, setelah Helena melakukan tindakan bodoh yang telah ia yakini bahwa Alex menerima kenyataan bodoh itu juga. Satu hal bahwa Alex tak pernah menerima kenyataan itu, dan ia tak pernah mau membicarakan bagaimana perasaannya. Sehingga Helena memiliki pandangan yang berbeda, di mana ia tak mengetahui bahwa sebenarnya Alex, telah kehilangan sebagian perasaan cintanya dikarenakan peristiwa itu. Akhirnya mereka berpisah tepat pada bulan ketujuh dari awal mereka menjalin hubungan. 


Satu informasi unik di sini adalah bagaimana peristiwa tertentu ( dalam hal ini peristiwa menyakitkan ) dapat berdampak pada pola pikir seseorang. Yang secara terpisah, pola pikir itu tidak terikat dengan bagaimanapun kondisi dan unsur genetik orang itu. Alex secara impulsif merespon peristiwa menyakitkan itu dengan reaksi-reaksi, seolah ia memiliki mindset tetap. Ia bersembunyi di balik asumsi negatif serta spekulasi-spekulasi yang ia ciptakan sendiri. Alex bahkan tak pernah berupaya mencari tahu, atau menanyakan secara detail kepada Helena bagaimana peristiwa itu bisa terjadi. Dan satu-satunya gagasan yang ia pertahankan hanyalah bagaimana kejadian bodoh itu bisa terjadi, sementara Helena sedang berada dalam hubungannya.


Alex, mungkin saja terlahir dengan kondisi biologis tertentu yang ia warisi dari orangtuanya, ia juga tumbuh dan hidup di lingkungan yang bisa jadi berdampak pada pembentukan karakternya. Namun, kisah ini juga memberi arti bahwa selain biologis, dan lingkungan tentu saja, ada peristiwa tertentu yang dapat membuat rekam jejak pada lobus-prefontal otak. Dalam hal ini, peristiwa traumatik itu membuat Alex kehilangan kendali dan menjadi terbatas untuk mengakses otak limbik, sehingga ia menjadi kurang dapat mengendalikan emosionalnya. Dan di akhir, ia merubah pola pikirnya.


Sumber :

- Pengalaman seseorang

- Emotional Intelligence - Daniel Goleman

- Mindset - Carol S. Dweck

- Self Theories - Carol S. Dweck