Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Alex - Mindset Jatuh Cinta (Part. 2)

Alex - Mindset Jatuh Cinta (Eps. 2)


Hari ini Alex pergi untuk menemui Helena, dan ia memutuskan untuk menggunakan fasilitas transportasi umum. Ketika matahari mulai tepat berada di atas kepalanya, ia tiba di kota tempat Helena tinggal, dan ia pun turun di sebuah tempat, di mana banyak wajah pejalan kaki yang nampak kusut, terminal. Mereka berjanji untuk bersua pukul 13.00, namun ketika Alex menginjakkan kaki di tengah kerumunan kondektur-kondektur genit itu, ponsel genggamnya mati lantaran kehabisan batrei. Alex juga tak pernah membawa jam tangan, dan apalagi memasangkan diantara dua tangannya, sehingga ia tak tahu pukul berapa saat ini.


Di tengah-tengah keramaian, Alex duduk di ruang tunggu penjemputan. Di dahinya terlihat kerutan-kerutan kecil, serta ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa ia sedang menahan sesuatu. Sementara di depan Alex, berdiri dua orang remaja dekil membawa kotak koin dan gitar. Dengan berisik mereka melantunkan nyanyian dari nada gitarnya, yang agaknya sedikit sumbing. Alex pun tak tahan lagi, kemudian ia berdiri dengan menggenggam tangan kirinya yang dimasukkan ke dalam saku celananya, lalu menghampiri pengamen itu, “Mas!, toilet di mana ya?, Saya sudah tidak tahan lagi”.


Tak lama setelah itu, Helena menghampiri Alex. “Aku tidak bisa menghubungimu. Ponsel kamu mati? Tanya Helena. Alex tidak menjawab, melipatkan dua bibirnya, dan menyipitkan matanya, seolah berusaha fokus pada titik tertentu. “Kamu tidak membawa ponsel?”. Tanya Helena lagi. Alex masih belum mau menjawab, dan semakin memejamkan kedua matanya. “Kamu kenapa Sih!”, Helena sedikit menaikkan intonasinya setengah nada. Alex menunjuk ke bawah, ternyata Helena menginjak kaki Alex, “Oh, maaf tidak sengaja”. Jawab Helena sambil mengangkat kakinya dari kaki Alex.


Saat itu, Helena berfikir bahwa Alex akan mengajaknya ke tempat-tempat romantis, dan menghabiskan waktu untuk berdua bersama. Melihat sedikitnya kesempatan dan momentum untuk sering bertemu lantaran berbeda kota tinggal. Namun Alex berfikir sedikit berbeda, ia hanya ingin menghabiskan waktu di rumah saja. Dan secara intens membicarakan rencana-rencana tentang hubungannya bersama Helena. "Jadi? Ke tempat mana dulu kita sekarang?" Tanya Helena dengan senyum harapnya. "Bagaimana jika menghabiskan waktu untuk minum teh bersama dirumah kamu?" Jawab Alex. Helena terdiam. Senyumnya perlahan-lahan mulai menghilang, dan Helena merasa Alex harus mengevaluasi dirinya. Dan yang terpenting, mengkoreksi kalimat yang baru saja ia ucapkan. 


"Aku kira kamu mengerti mauku", Helena mengambil nafas panjangnya. "Kenapa kamu terlihat berbeda? Dan egois? Bahwa sedikit saja kamu tidak ingin mengerti keinginanku". Helena menggerutu, dan ia mulai membicarakan karakter Alex, egois. Alex masih terdiam, seolah tak ada perlawanan, dan ia lebih memilih untuk mendengarkan pasangannya berbicara terlebih dahulu. Seperti yang sudah dibicarakan sebelumnya, Helena adalah seseorang yang ber-mindset bahwa tanpa ia perlu berkomunikasi, tentu saja pasangannya akan mengerti apa yang ia inginkan. Atau ini berarti bahwa, seharusnya Helena dan Alex tak perlu repot mengeluarkan usaha tertentu untuk bahagia. 


Tentu saja hubungan tanpa usaha adalah hubungan yg cenderung mengarah pada kegagalan, dan bukan hubungan yg hebat. Sebuah hubungan membutuhkan usaha untuk berkomunikasi secara akurat, dan usaha untuk menjelaskan, menyelesaikan berbagai harapan, serta kepercayaan yg berbeda. Ini bukan berarti tidak ada istilah "Mereka hidup bahagia selamanya", tetapi ini lebih seperti "Mereka bekerja untuk bahagia selamanya". 


Manusia yg bermindset tetap terkadang berfikir bahwa "jika kita harus bekerja keras mengupayakan, pasti ada yg salah dengan hubungan kita". 


Ini adalah soal komunikasi, bukan soal kepribadian atau karakter. namun dalam mindset tetap, hasrat untuk menyalahkan orang lain datang terlalu cepat dan kuat. 


Cerita ini berdasarkan true story yang dialami oleh seseorang.