Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Alex - Mindset Jatuh Cinta (Part-1)

Alex - Mindset Jatuh Cinta (Part-1)


Menjelang penghujung tahun 2016, seorang teman lama Alex yang bernama Jah (nama samaran), suatu malam mengirim sebuah pesan ke Alex melalui fitur instan messaging dari ponselnya, "Lex, Apa kabar?" Tulis Jah dalam pesannya. Melihat ponselnya bergetar, Alex segera mengambil ponsel dan melihat isi pesan Jah. Di situlah kemudian mereka terlibat obrolan, hingga cerita tentang seorang wanita bernama Helena mulai terlahir. Helena adalah teman sekantor Jah yang ingin Jah kenalkan pada Alex. Kebetulan Jah dan Helena bekerja di kota yang berbeda dengan Alex waktu itu. 

Alex nampaknya sulit membalas dan menjawab obrolan dengan cepat, lantaran ponsel yang ia miliki sejak 2013 itu mulai retak pada bagian layarnya. Tak jarang keyboardnya juga bermasalah yang membuat ia sering typo. Hingga di ujung percakapan itu, Jah seolah mempersuasi Alex agar ia mau diperkenalkan dengan Helena. "Aku berniat mengenalkanmu pada Helena, kamu bersedia kan, Lex?" Tulis Jah. 

"Ikeh" Jawab Alex.
"Ikeh" Alex membalas lagi, seolah mempertegas.
"Kimochi?" Balas Jah.
"Maksud saya Okeh, maaf keyboardnya agak error" Balas Alex yang sekaligus menutup obrolan malam itu.

Esok paginya ketika Alex terbangun, ia mengecek ponselnya dan terdapat satu pesan dari Jah. Pesan itu berisi kontak telepon Helena yang Jah bagikan padanya, ia kemudian tercetus gagasan untuk mengirim sebuah pesan kepada Helena, tapi ia tak tahu bagaimana ia memulainya. Alex terdiam sejenak, dan terus menatap layar ponselnya seolah-olah ia sedang dikonfrontasikan dengan sebuah soal ujian akhir semester. Ia berfikir lumayan lama, kurang lebih sekitar 2 menit 10 detik. Kemudian Alex memilih untuk menuliskan "Hai" dan mengirimkannya kepada Helena.

2 jam lebih kemudian, Alex masih memerhatikan ponselnya. Seolah-olah berharap ada pesan masuk, dan tentu saja balasan dari Helena. Ketika ia mulai sibuk dengan aktifitas di tempat kerjanya, ia mendapati ponselnya bergetar di dalam sakunya, menandakan ada pesan baru. Detak jantung Alex sempat meningkat untuk sesaat, ketika Alex menduga pesan yang baru masuk itu adalah balasan dari Helena. Alex membuka ponselnya, lalu, "Promo! Obat penumbuh rambut ampuh mujarab...". "Sialan!" Gumam Alex dengan menunjukkan mimik kesal lantaran mendapat pesan spam. Alex melanjutkan kembali pekerjaannya dan untuk sejenak mengabaikan ponselnya.

Pada saat jam istirahat makan siang, Helena membalas sapaan Alex. "Hello" tulis Helena singkat, Alex membuka ponselnya 5 menit kemudian. Agaknya mulai dari sinilah, percakapan mereka terus berjalan baik dan mengalir seperti ombak laut meskipun kondisi air sedang surut. Perlahan-lahan namun pasti, Alex merasa Helena adalah pribadi yang baik, dan asik untuk diajak berbicara topik apapun, pun demikian juga bagi Helena, ia merasakan hal yang sama.

2 bulan kemudian Alex dan Helena semakin terlihat akrab, mereka lantas menyatakan ketertarikan satu sama lain, dan berharap menjalin hubungan yang berkomitmen. Selama 2 bulan itu juga, mereka terlibat beberapa kali pertemuan. Dimana Alex perlu menempuh jarak sekitar 68 kilometer jauhnya untuk menemui Helena. Alex tidak menjadikan jarak sebagai sesuatu yang berarti lantaran mindsetnya berkata bahwa - "Sebuah hubungan yang berjalan dengan baik tidak menutup usaha-usaha tertentu. Bahwa jatuh cinta adalah pilihan dimana kebahagiaan dalam sebuah hubungan tidak terlahir secara instan, melainkan karena upaya-upaya tertentu antara dua sejoli untuk memahami dan menyelesaikan perbedaan-perbedaan yang tak terhindarkan".

Atau dengan kata lain, mindset Alex tidak berkata bahwa - "Jika diusahakan, maka tak ditakdirkan". Namun beda halnya dengan Helena, sebenarnya, mindset Helena terlihat sedikit bertolak belakang. Hal itu terlihat setelah mereka memasuki bulan ke-3, bahkan Helena suka membuat kode-kode tertentu, seolah kode itu mengisyaratkan tuntutan kepada Alex. Pada satu kesempatan, Helena akan menuntut Alex untuk membaca pikiran Helena.

Sebuah contoh dalam kasus ini, ketika terjadi perbedaan pendapat di antara keduanya, Helena lebih banyak berdiam, lalu berkata-kata, "Sudahlah! Kamu tidak akan mengerti". Atau pada kesempatan lain, "Aku kira kamu memahamiku". Ketika Alex mengajak Helena membicarakan masalahnya, dan sekaligus mencari jalan keluar, kalimat yang sama akan terdengar lagi dari mulut Helena, dan sekali lagi, Helena tidak menyertakan penjelasan tertentu pada kalimat itu, seolah-olah dalam benak Helena, Alex memiliki kekuatan untuk membaca pikiran, dan mengerti apa yang Helena inginkan tanpa ia perlu mengkomunikasikannya.

Ini menunjukkan bahwa cinta bukan hanya tentang perasaan, namun juga kekuatan-kekuatan pola pikir. Alex sebenarnya mulai menyadari akan mindset yang Helena miliki, ia juga menyadari bahwa ia tak bertanggung jawab dan merubah atas apa-apa yang melekat pada Helena, termasuk pola pikirnya. Karena mustahil Alex mampu merubah pribadi lain diluar otoritasnya, namun yang dapat Alex lakukan, adalah dengan menyadarkan Helena akan pola pikirnya.

Berhasilkah Alex menyadarkan Helena? Apa yang terjadi dengan hubungan mereka kedepan?

P.S.:
Cerita ini berdasarkan pengalaman nyata dua sejoli yang dianonimkan. Cerita ini juga menunjukkan peneletian Carol S. Dweck dalam bukunya MINDSET.